Hari itu minggu, tapi saya lupa tanggal berapa, yang pasti hari itu saya dimintai sohib untuk menemani dia mencari rumah pasiennya. Afsari, sahabat akrab yang saya kenal sejak kuliah S1 selama di perantauan hingga saat ini. Walaupun kuliah di beda jurusan tapi kami tetap nyambung, mungkin karena banyak kesamaan hobby, termasuk hobby wisata kuliner dan jalan-jalan.hehe
Hari itu, sekitar jam 9an, kami berangkat dari kost teman saya, Afsari, menuju rumah pasiennya. Waktu itu Afsari sedang mengambil gelar profesi Ners keperawatanya di salah satu Universitas Negeri di Palembang. Salah satu tugas belajarnya adalah praktek di Rumah Sakit Jiwa Ernaldi Bahar, Palembang. Dari Pembimbingnya, teman saya ini ditugaskan mengunjungi rumah pasiennya untuk observasi keseharian pasien di rumah dan di lingkungannya. Jadi, hari itu berangkat lah kami ke sana menggunakan motor dan panas2an.
Sebelumnya kami masih sempat berwisata
kuliner terlebih dahulu di Ayam Bakar Pak
Yono, tepatnya terletak di jln. Angkatan 66, Palembang. Makan jam 10 pagi merupakan
waktu yang tepat bagi anak kost seperti kami tempo itu karena sarapan pagi dan
makan siang bisa dijamak dalam satu waktu.hehehee.
Santap siang selesai, waktunya kami
melanjutkan perjalanan menuju rumah target. Bersama Mio sporty saya yang berwarna
putih creamy kami meluncur dari jantung kota Palembang melewati bandara ke arah
Km.14,5 (sudah masuk kawasan Kabupaten Banyuasin). Sepanjang perjalanan yang
berdebu itu, kami sering kali di “suit-suit”
(siul) kakak2 ato om2 supir truk, maklum, jarang2 ada dua cewe kece travelling by motocycle, nyalip
mobil-mobil dengan gesit.hehehee. Tak hanya itu, kami juga sering berhenti
untuk melihat dan membaca tulisan di plang gapura atau nama-nama gang kecil,
memastikan apakah cocok dengan alamat yang tercantum di lembar surat penugasan
teman saya itu. Yups, ternyata dia juga belum pernah berkunjung ke sana, so,bisa dibayangkan betapa susahnya
mencari alamat di daerah yang asing bagi kita. Mungkin hal yang sama yang
menginspirasikan mbak Ayu Ting-Ting dalam pembuatan album “Alamat Palsu”.hohoho
Finally,
setelah beberapa jam berlalu, sampailah kami pada sebuah gang yang dimaksud.
Tujuan utama kami yaitu mencari rumah Kepala RT terlebih dahulu untuk
mengkonfirmasi bahwa kami akan mengunjungi salah satu warganya. Uhm, ada satu hal
yang saya tahu belakangan mengapa saya yang diajak teman saya (Afsari) menemani
dia hari itu, yaitu karena selain saya punya motor, suka travelling, juga karena urat malu saya sudah putus. Berhubung
teman saya itu orangnya pemalu (kesan pertama sebelum kenal saya juga begitu,
tapi setelah kenal orangnya lebih rame lho),
maka saya lah yang sering kali turun dari motor dan bertanya pada orang yang
lewat, di warung-warung, ato orang yang lagi nongkrong rame-rame…udah saya yang
boncengin dia, saya juga yang mesti tanya2. Cuapeeek dech…
Perjalanan yang ditempuh penuh
petualang, musti lewat lokasi orang-orang penambang batu, banyak truk-truk
besar, tanah kuning, hmm, kebayang ga sih, naek mio yang jalannya off-road? It’s so dangerous. Setelah tanya
sana-sini, ketemu lah rumah Pak RT nya, tapi ehh ternyata oh ternyata, yang empunya rumah lagi kondangan.
Menunggu lah kami di depan rumahnya Pak RT dengan galau dan mati gaya. Gimana tidak,
wong nunggunya di depan rumah kok, ga
disuruh masuk sama anaknya Pak RT.hikss.. Beberapa saat kemudian, muncullah Pak
RT bersama istrinya (Horee), dan baru deh disuruh masuk (Huahahaa). Setelah
bercerita panjang lebar dan memperoleh tanda tangan, kami pun pamit. Ada banyak
pelajaran yang kami dapatkan dari rumah itu. Pak RT itu (saya lupa nama beliau),
seorang Bapak yang penuh semangat, suka menasehati, dan ramah tentunya. Beliau
menasehati kami, belajar yang benar karena ortu kami di kampung halaman juga
sedang berjuang tuk memenuhi kebutuhan kami termasuk biaya kuliah. Katanya, Beliau
juga punya anak cewek yang baru lulus SMA tapi tidak mau dianjurkan tuk melanjutkan
studi ke jenjang yang lebih tinggi, padahal mereka termasuk klrga menengah ke
atas, sungguh disayangkan!
Sepulang dari rumah Pak RT, kami
melanjutkan perjalanan dan mampir di salah satu masjid di sekitar wilayah itu untuk
sholat zhuhur (lupa lagi deh nama
masjidnya). Setelah itu, berbekal tandatangan pengesahan dari Pak RT, kami pun
menuju rumah pasien teman saya itu. Rumahnya besar dan bagus. Satu deretan
paling depan dalam kompleks itu adalah rumah pasien tersebut bersama dengan
rumah paman-bibinya, yaa, isinya
keluarga mereka semua. Ibrahim namanya. Yang entah bagaimana awalnya dia
seperti itu semenjak remaja menjelang dewasa. Sering tertawa tanpa sebab, dan
yang parah dia sering mengamuk dan melukai ibunya (bila sedang kumat), maka
direhabilitasilah dia di salah satu rumah sakit jiwa di Palembang. Kakak
Ibrahim dulunya juga begitu, terganggu mentalnya, namun sekarang kakaknya
justru sudah sembuh dan bekerja di salah satu kantor Dinas kabupaten. Mungkin
ada faktor keturunan (kalo yang ini saya kurang yakin, sampe skrg juga belum
dijawab Afsari ketika saya menanyakan itu padanya). Diperkuat dengan pernyataan
lugu Bapaknya Ibrahim, keluarga sebelah Ibunya juga ada yang begitu.
Uhm,
selama perjalanan hari itu kami tidak hanya mendapat banyak pelajaran dan
menambah relasi, tapi juga ada berkah silaturahminya, tentu saja saya sedang
membahas acara ramah-tamah (makan2.hehe).. Saat berkunjung ke rumah Ibrahim
(pasien teman saya), keluarga besar mereka di kompleks tersebut sedang hajatan,
kalo ga salah acara Aqiqah’an (cukur rambut bayi). Yaa jangan ditanya, tentunya kami ditawari makan dong! Hehe.. Anak kost ke kondangan itu
ibarat kucing dikasi makan ikan peda (Hap.Hap.Hap.Lahap..).
Sepulangnya dari sana (Km.14,5), masih
sempat-sempatnya kami ditilang polisi saat menuju rumah Bibi-nya teman saya di
daerah belakang Hotel Aston Palembang (niatnya mo balikin helm). Posisi
ditilang tepatnya di depan rumah sakit jiwa tempat si Afsari magang, RSJ Ernaldi
Bahar. Waktu itu saya bawa motornya woles
banget (ketahuan kalo biasanya ngebut,
hehee), kami ditilang bukan karena ga pake helm, juga bukan karena terjaring
razia orang-orang cantik (bwahaha),
tapi karena plat motor saya asing (BN), bukan kode plat Palembang (BG).
Walau deg-degan, walau pucat-pasi, kami
tetap berusaha “cool”, terutama saya
yang bawa motor. Ditanya itu-ini, diminta perlihatkan STNK dan SIM (walaupun
SIM nembak, ane juga punya, gan! Hohohoo). Terakhir pernyataan konyol
saya pun muncul (sering kumat, ngomong salah tempat & ga penting), kali ini
masih sempet2nya bilang ke Pak Polisi : “Teman saya kerja di situ lho Pak!” (sambil nunjuk gedung di belakangnya)..Whhhhh.ga penting amat....mungkin
saat itu saya mikirnya pernyataan itu ngeffect,
nyatanya nggak ngaruh tuh.. Tapi
akhirnya kami dilepas juga..langsung deh meluncur ke rumah Bibi-nya temen lalu
balik kekostan…..Mandi…Makan (lagi)...dan malamnya kami tidur nyenyak sekali (yaa iya lah, capek banget tau')…tapi walaupun sama2 capek, sama2 gosong (kulitnya), kami berdua sama2 mendapatkan hikmah & pelajaran dari hari itu, salah satunya bersyukur..
# # # # Sekian dan Terima Kasih # # # #
Comments
Post a Comment