Jangan Berbisnis Setengah-Setengah !



Jum’at lagi. Sebentar lagi weekend ya guys
Apa kamu cukup senang seperti Saya?? Hehee..Saya termasuk salah seorang yang sangat antusias menyambut akhir pekan, bagaimana tidak, soalnya di Perusahaan tempat Saya bekerja sekarang hanya memberi libur satu hari, minggu doang. So, jika weekend datang rasanya bersemangat sekali merencanakan mau hangout kemana aja dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.hehehe

Sebenarnya Saya sungguh kecewa dengan kebijakan Perusahaan yang hanya meliburkan karyawan satu hari, rasanya kurang banget (bagi Saya). Mengunjungi orangtua Saya yang kini tinggal berjauhan dengan Saya pun waktunya ga cukup. Capek di jalan, belum lagi sarana transportasi yang ke arah sana masih terbatas sehingga Saya jarang sekali pulang ke rumah ortu.

Ngomong-ngomong soal kerjaan dan masa libur, dulu pernah Saya ditawarin temen suatu pekerjaan yang katanya “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, kita bisa kerja dan libur semau kita. Waktu itu Saya lagi sibuk-sibuknya penelitian skripsi S1 di Laboratorium kampus. Uhm, lagi-lagi bahas masa kuliah.hehee..Gapapa kan, soalnya masa kuliah bagi Saya adalah masa berpetualang yang sangat seru, ada banyak cerita selama menuntun ilmu di sana.

Di Laboratorium, Saya dibantu oleh laboran-laboran di sana. Nahh, Salah seorang laboran ada yang dekat sama Saya, sebut aja Tukiem (Nama samaran.hehehe). Tukiem ini sering membantu Saya selama penelitian (tentunya karena dibayar Dosen Pembimbing Saya, berhubung Saya juga ngerjain proyek penelitiannya Beliau). Tugasnya berupa menyediakan fasilitas yang Saya butuhkan untuk penelitian Saya setiap pagi, menimbang sampel-sampel penelitian, menunggu sterilisasi kelar, gantian jaga sampel kalo jam-jam istirahat, juga setia menemani Saya menginap di Lab yang terkenal angkernya itu hingga berbulan-bulan. Akhirnya karena rutinitas itulah yang membuat Saya dan Tukiem cukup dekat. Kadang dia menceritakan kakaknya yang bawel, keluarganya yang jauh, bahkan tentang pacarnya yang katanya romantis sekali.

Back to story. Singkat cerita, dari Tukiem inilah Saya mendapatkan tawaran pekerjaan yg sungguh menggiurkan itu (jika didengar sekilas). Ketika kerjaan Saya di Lab mulai berkurang dan banyak waktu santai, Tukiem pun beraksi. Dengan segala cara Tukiem mati-matian mengajak (membujuk) Saya untuk ikut bisnis yang juga sedang dia jalani saat itu. Tukiem sungguh gencar mempromosikan bisnis itu bahkan memberikan Saya undangan special tuk datang ke acara yang diadakan bisnis itu. Yeppsss, bisnis MLM yang Saya maksud.

Tukiem yang sudah (terlanjur) menjadi member bisnis MLM itu setiap hari kerjaannya menguber-uber Saya melulu. Awalnya Saya ladeni berhubung dia juga rajin bantuin Saya di Lab, selain itu karena kost Saya juga sudah jadi homestay-nya dia. So, Saya ga mungkin bisa kabur jauh-jauh. Setelah di prospek panjang lebar (istilah mempromosikan menurut mereka), Saya pun mengiya-iyakan saja. Jujur, awalnya Saya sungguh terkesima. Sistem kerjanya berupa kerja mati-matian di awal lalu nikmati hasilnya kemudian. Sekilas sangat menarik sekali. Bisa dikerjakan kapanpun. Tidak terpaku dengan waktu. Diri sendiri adalah bos. Bertemu banyak orang. Dll.

Satu dua bulan kemudian, hampir setiap harinya handphone Saya berdering, entah itu sms maupun telpon, siapa lagi kalo bukan dari si Tukiem, menanyakan apa kabar Saya, gimana, kapan mo gabung, ataupun berupa undangan-undangan yang mengharapkan kehadiran Saya sebagai calon member baru. Namun Saya abaikan. Secara halus tawaran itu Saya tolak. Berbagai alasanpun Saya lontarkan, kebetulan saat itu penelitian yang sudah Saya kerjakan selama satu semester gatot alias gagal total karena enzim yang Saya gunakan dalam penelitian Saya rusak dan tidak bereaksi dengan sampel yang diuji, sementara menyiapkan sampelnya aja memakan waktu 1-2 bulan (NB : enzim rusak efek PLN kampus yang sering mati). Alasan itu cukup ampuh tuk menolak ajakan itu. Tukiem tahu Saya lelah. Tukiem juga tahu Saya sudah cukup malu dan sedih ditanya mulu “Kapan lulus” oleh tetangga-tetangga di kiri-kanan rumah Bapak Saya di kampung. Bisnis itupun tenggelam dan hilang.

Beberapa bulan kemudian, ketika semuanya mulai membaik, penelitian kelar, proyek sukses, dan ketika Saya lagi santai-santainya menikmati hari-hari terakhir di Kampus menjelang beberapa bulan mau wisuda, datang kabar dari sahabat dekat Saya, Afsari. Berhubung tidak ada aktivitas kampus lagi, maka Saya seringkali ke sana ke mari, melancong, ngebolang, bepetualang hilir mudik ngabisin bensin motor.

Hmm, Tiba-tiba Sahabat Saya ini membuka omongan lagi tentang bisnis MLM itu dan yang lebih mengagetkan adalah ternyata dia sudah menjadi member di sana. Amazing!! Saya bener-bener ga percaya sampe Sahabat Saya itupun mengeluarkan katalog2 dan brosur2 untuk membuktikannya. Dan apa yang terjadi, Saya pun kembali di prospek oleh Sahabat Saya sendiri. Dan entah kenapa, ketika Sahabat Saya ini menjelaskan marketing plan bisnis itu, Saya pun langsung tertarik tanpa berpikir ulang, berbeda ketika Saya diprospek sebelumnya oleh si Tukiem.

Sahabat Saya ini dibantu temannya. Saya diprospek berkali-kali dan akhirnya memutuskan untuk ikut mencoba. Tampang Sahabat Saya serius amat saat itu, jadi karena begitu menyakinkan, Saya relakan saja uang Rp.580.000,- untuk saham awal bisnis itu. Hmm, aura Sahabat Saya hebat kan? sehingga mampu membuat Saya terpengaruh.Whahaha.. Sahabat Saya itu biasanya selektif memilih bisnis yang akan dia jalani dan jika merasa itu bagus pasti akan dicobanya. Saya pun terikut arus. Hehehee

Sebulan pertama Saya masih enjoy. Bertemu banyak orang, menambah kenalan, dan sedikit banyak memahami bisnis itu. Kerjanya iya ga capek, santai, terserah kita kapan mood ngerjain, tapi selama Saya ikut bisnis itu seringkali merasa privasi Saya terganggu. Harus rapat member rutin setiap minggu dan bulan, biasanya hari-hari weekend yg seharusnya libur. Itupun ada yang rapat dengan sesama kita (kita dan jaringan di bawah kita/downline), rapat kita sebagai downline dengan yang upline, juga berbagai pertemuan akbar dengan member2 yang berasal dari wilayah yang berbeda, biasanya Bandung, Jakarta, Jogja, dll. Selain itu, hampir setiap hari sms masuk dari sesama member, menanyakan kabar, memompa motivasi, atau sekedar mengingatkan bahwa minggu depan ada kegiatan apa, dan tak tanggung-tanggung sekali sms bisa 3-4 layar hingga walaupun belum habis dibaca langsung Saya delete daripada pusing *some text missing* mulu.

Setelah seringkali terkantuk-kantuk ketika Leader memimpin rapat di depan (Leader istilah Pemimpin, dalam bisnis itu), setelah seringkali pulang malam sehabis rapat, setelah seringkali mengorbankan weekend, setelah seringkali mendelete messages yg bikin inbox full, akhirnya Saya menjauh dari komunitas itu, bersamaan ketika Saya selesai wisuda dan harus balik ke tanah kelahiran, semuanya berakhir dan Saya putuskan cukup sampai di situ saja.

Di Dunia ini ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk meningkatkan financial kita. MLM adalah salah satu jalur bisnis alternatife lain tuk meraih itu. Namun tidak semua orang memandang bisnis di bidang ini positif. Adakalanya mereka yang berpola pikir praktis dan banyak sistematik perhitungan menilai bahwa bisnis ini adalah omong kosong. Pun ada juga bagi mereka yang yakin bahwa bisnis ini bukan sekedar isapan jempol. Beberapa orang yang yakin telah membuktikan bahwa mereka benar-benar meyakini bisnis itu dibuktikan dengan mereka mampu memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier seperti membeli motor, mobil, rumah, bahkan jalan-jalan ke luar negeri (teman Saya salah satunya, tapi bukan si Afsari ato si Tukiem).

Hmm, tak apalah habis beberapa ratus ribu, yang penting kini dapat hikmahnya. Sahabat Saya juga meninggalkan bisnis itu tak lama setelah Saya berhenti. Sahabat Saya itu juga terhitung rugi tapi lebih banyak dari Saya, sekitar Rp.2.780.000,- Hahahahahaaaaa…. Si Tukiem apa kabarnya?? Konon Saya mendapat kabar bahwa dia rugi Rp.3.880.000,-….Ckckckkkkk…

Adalagi….Saya ga habis pikir, waktu itu Ibu Saya aja sempat yakin banget ketika Saya prospek Beliau sampe mau minjemi Saya uangnya dan uang itu diperoleh dengan cara menggadaikan SK PNS Beliau (waktu itu Saya nekat mau pasang 17 cabang, sekitar Rp.10jutaan). Ckckckkk…Mungkin jika itu terjadi pasti hingga hari inipun Saya pasti merasa sangat bersalah, mungkin Sayalah anak paling durhaka sama Ibu, dan mungkin dosanya tidak cukup dimaafkan dengan dikutuk jadi batu seperti si Malin Kundang..Untung ga jadi…Hahahahahaaa…  

Kamu-kamu kalo mau ikut bisnis yang begituan saran Saya harus yakin dulu deh kayak temen Saya yang sampe beli motor, jangan ikut-ikutan aja kayak Saya, Sahabat Saya, apalagi si Tukiem. Kini Saya lebih senang sama kerjaan yang bersifatnya real. Hasil keringat sehari-hari. Bisa dilihat langsung. Jikapun ada keinginan berbisnis ya mencoba bisnis yang benar-benar masuk akal. Jika ingin barang-barang elektronik canggih atau impian mau kemana yaa bekerja yang giat dan menabung. Pokoknya sekarang hanya melakukan pekerjaan yang bisa diterima logika aja deh.Hehehee….  

Comments