Pengalaman Exclusive Bersama Srikandi N.

 
Indonesia dikenal sebagai Negara yang berbudaya. Salah satu budaya yang selalu dilestarikan Indonesian hingga kini adalah budaya santai alias ngaret (waste time), dan sepertinya budaya ini telah terpatri sempurna dalam kehidupan sehari-hari. Pada trip kali ini pun begitu, sudah lewat 15 menit dari jadwal keberangkatan, namun bus yg Saya tumpangi belum jg menunjukkan tanda2 akan berangkat. Ketika membayar sejumlah uang tuk membeli karcis bus, Saya sempat bertanya jadwal keberangkatan armada2 bus tsb. “Kalo yg ini, jam 12 neng berangkatnya”. jawab Pak Supir. Saya pun naik ke dalam bus yg dimaksud.

Bepergian pada musim panas (biar keren walaupun maksudnya musim kemarau) sungguh menyiksa lahir batin. Saya aja saking mo jalan-jalan, ga sempet mikir efeknya jika bepergian jam2 segitu, dimana matahari berasa tepat di atas ubun2. Puanasss sekaleee… 

Bus yang Saya tumpangi

Beberapa hari lalu, Saya melakukan trip (lagi). Kali ini mengunjungi Bibi Saya yg tinggal di suatu Kota Kabupaten, yg jarak tempuhnya sekitar 3 jam perjalanan bus. Pukul 12.25 WIB bus baru berangkat dari terminal. Saya agak sedikit lega karena dapet tempat duduk dekat jendela, yg anginnya sepoi2 bikin ngantuk, bikin ngkhayal. Singkat cerita, selama perjalanan Saya suntuk setengah mati. Berhubung Saya bukan seorang pejalan yg suka tidur di perjalanan maka jadilah Saya seseorang pengamat yg baik. Untuk mengusir jenuh selama 3 jam perjalanan itu, Saya berinisiatif denger musik kenceng2 pake headset sambil mandang pohon2 yg berlari di kiri-kanan Saya.

Tiba-tiba Saya teringat kejadian tahun 2010 lalu, tepatnya pas libur semester genap. Serta merta volume musik Saya kecilkan lalu buka Hp dan ngeblog. Yahh, moment ini harus segera diabadikan dlm bentuk tulisan sebelum kenangan ini terlupakan dan hilang tertinggal bersama pohon2 yg berlari itu, walaupun agak repot ngeblog via seluler berukuran 4 inci ini.

Waktu itu Saya mau kembali ke Palembang sehabis libur semester. Saya bersama adik perempuan Saya (dia ikut karena mo daftar SNMPTN panlok Palembang) dan seorang teman kuliah (sengaja Saya ajak berhubung dia pengen sekali mengunjungi provinsi Saya). Ketika itu kami berangkat dianter Bapak dan Ibu Saya hingga Pelabuhan Tanjung Kalian. Berhubung lagi musim libur mahasiswa maka tiket jetfoil pun ludes dan nasib kami pun berubah jadi gembel dari detik itu juga. Akhirnya 3 buah tiket kapal ferry pun kami dapatkan setelah sempat terluntang-lantung mencari informasi tempat membeli tiket (the first time). Sebenarnya kami bisa saja menunda keberangkatan hingga menunggu jetfoil yg keesokkan harinya, namun teman Saya itu harus pulang hari itu jg karena besok dia ada kegiatan himpunan kampus di luar kota (temen Saya kebetulan jd Bendahara kegiatan tsb). So, kapal ferry adalah alternative terbaik yg kami putuskan saat itu.

Srikandi Nusantara dari kejauhan





Proses bongkar-muat

KMP. Srikandi Nusantara adalah nama ferry yg kami naiki. Kapal barang ini merupakan sarana penyeberangan yg murah meriah, saat itu harga tiketnya hanya Rp.40.000,-/org. Kapal ini tidak hanya mengangkut barang2, motor, atau mobil2 ekspedisi saja, namun juga penumpang. Kebanyakan penumpang berasal dari daerah Sumatera seperti Palembang, Lampung, Jambi, dan sekitarnya, isinya pun kebanyakan supir2 brewokan, berkulit legam (maaf, bukan rasis) dan berpadu dengan buruh kasar yg bekerja di berbagai sektor di provinsi ini.

Di Kabin penumpang, tepat di hadapan kursi penumpang ada tv berukuran jumbo dan musola kecil di sudutnya. Berhubung kami kalah gesit (maklum itu yg pertama kali), maka kami ga bisa memilih tempat duduk seenak jidat, alhasil kami pun duduk terpisah. Di seberang Saya ada seorang lelaki sedang tidur selonjoran sehingga satu bangku yg seharusnya bisa diisi 3 org tapi digunakannya sendiri. Begitu dia bangun dan duduk, Saya menghampiri dan bilang bahwa Saya mau menggunakan 2 bangku disebelahnya utk 2org (adik dan teman Saya). Lelaki itu mengangguk lalu menuju toilet.

Ketika Saya memanggil adik dan teman Saya, datang seorang lelaki yg awalnya duduk di depan Saya berpindah ke tempat yg bakal adik dan tema Saya duduki (lelaki itu juga tahu mereka bakal pindah ke situ), maka dengan sopan Saya mengingatkannya sambil meminta maaf bahwa tempat duduk itu sudah Saya patenkan utk adik dan teman Saya. Dengan cuek dia bilang “Suka2 Saya, di tiket kan gada no.kursinya”. Geram sekali Saya kala itu, orang2 yg melihat kejadian itupun hanya menggeleng2kan kelapa melihat ulah lelaki itu (Saya agak terhibur cz dapet dukungan dari orang sekitar). Saya pun mengalah dan kembali duduk.

Sekitar setengah jam kemudian, tiba2 lelaki itu bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah depan mengambil barangnya yg ditumpuk di depan tv bersama barang2 penumpang lainnya. Detik-detik langka itu tidak Saya lewatkan begitu saja, dengan cepat Saya memberi kode kerlinga mata agar adik dan teman Saya segera pindah ke kursi kosong sepeninggalan lelaki itu tadi. Begitu dia membalikan badan, mukanya langsung memerah dan marah2. Dengan santai Saya tanggapi dan bilang, “Kamu ga berhak usir kita dari sini, bukankah kamu sendiri yg bilang bhwa di tiket gada no.kursi, dan yg lebih penting Siapa yg cepat dia yg dapat!!”. Hahaha..bodo amat..Lelaki itu langsung mati kutu dan hanya bisa marah2 dalam bahasa pedalaman Palembang (mungkin dikiranya Saya tidak akan mengerti bahasa itu). Di pojok dekat musolla seorang Ibu memberikan Saya thumb up dari kejauhan dan Saya senyumin (sekarang juga lagi senyum inget kekonyolan itu).

Tak lama kemudian ada yg menelpon Saya, mengaku sebagai ABK Kapal. Ternyata tanpa kami ketahui, Bapak dan Ibu Saya menitipkan kami kepada kru kapal itu dengan memberikan no.Hp Saya dan berpesan jika kami tidak dapat tempat duduk “tolong diberikan”. Setelah menjelaskan posisi keberadaan kami, tak berapa lama datanglah tiga orang ABK. Salah seorang yg menelpon Saya tadi menyapa dan menjabat tangan Saya. Setelah berbasa-basi barang2 kamipun dibawa rekan-rekannya menuju anjungan kapal dan kami bertiga pun dipindahkan ke anjungan kapal, tempat nakhoda kapal dan para kru beraktivitas. Itu kali pertama Saya masuk ruangan seperti itu, sejauh ini hanya liat di film2. Ruangannya nyaman sekali. Posisinya paling atas bagian depan kapal. Berjendela banyak dan full kaca, namun juga dilengkapi AC. Di dekat jendela, ada sofa memanjang dan disitu lah kami duduk. 

Bepergian menggunakan ferry itu sangat melelahkan dan terasa lama sekali. Selat Bangka yang biasanya hanya ditempuh sekitar 3 jam perjalanan jetfoil namun menjadi 10 jam jika menggunakan kapal ferry. Fortunatly, kami membawa banyak makanan dan sepanjang perjalanan kami ditemani ngobrol oleh Kak Reja dan Kru. Lelaki yg menelpon Saya tadi bernama Reja. Pemuda asal Palembang ini sudah beberapa tahun berlayar bersama KMP. Srikandi Nusantara. Lulusan Indonesian Maritime Radio Institude Jakarta ini dipercaya menjadi Markonis di ferry yang saya tumpangi saat itu, sehingga Saya sering memanggilnya Markonis Reja atau Kak Reja saja. Saat itu kami juga sempat berkenalan dengan pengawas kapal, namanya Kak Diky. Setiap tahunnya kapal2 barang harus diperiksa kelayakan berlayarnya atau perlu di-maintenance,dan Kak Diky ini perwakilan pengawas perkapalan dari Surabaya. Alhamdulillah Saya agak nyambung ngobrol sama pemuda kelahiran Jember ini berhubung pernah juga melewati daerahnya (walaupun hanya lewat ketika mo nyebrang ke Bali.hehe).

Sejak perkenalan itu, Saya berteman baik dengan Kak Reja dan Kak Diky (kalo Kak Diky via seluler saja). Beberapa bulan setelah itu Saya sempat beberapa kali bertemu dengan Kru Srikandi Nusantara. Pertama kali jalan bareng mereka Saya diajak makan dan nonton, waktu itu Saya ditemani Sahabat Saya, Afsari. Kak Reja mengajak 2 temannya dan kami pergi berlima, nongkrong di J.co terus nonton XXI.

Beberapa bulan berikutnya Saya menghubungi Kak Reja dan mengabarkan bahwa Saya akan menumpang Srikandi Nusantara lagi. Saat itu Saya lagi di Bangka mau nyebrang dan bawa motor (waktu itu mulai masuk musim skripsi, jadi bawa motor dari rumah biar enak bimbingan ma Dosen). Saat itu pagi2 sekali Saya berangkat sendiri dari Rumah ke Pelabuhan yg berjarak sekitar 2,5jam perjalanan motor. Jenis motor yg Saya kendarai adalah Yamaha Mio Sporty tahun 2008, berwarna putih-biru (sekarang warnanya dah jadi cream.hehee). Sesampai di Pelabuhan Saya disambut Kak Reja dan ga perlu beli tiket kapal alias gratis. Saat itu tahun 2011, harga tiket khusus kendaraan roda dua sekitar Rp.120.000,- (utk 1 motor 2 org), dan khusus roda empat sekitar Rp.800.000,-.

Selama di perjalanan Saya dan Kak Reja juga kru Srikandi Nusantara lainnya banyak berbagi cerita dan pengalaman. Mereka berasal dari berbagai daerah di pelosok negeri ini. Ada yg sudah menikah dan meninggalkan anak istri demi mencukupi kebutuhan keluarga, mencari sesuap nasi. Menjelang zhuhur, setelah selesai sholat Saya diajak ke dapur kapal oleh Kak Reja dan dibuatkan nasi goreng ala kadarnya. Itulah pertama kali Saya melihat dapur orang2 perkapalan, ada meja panjang dan besar tempat biasa kru berkumpul dan juga ada kulkas ukuran jumbo yang berisikan stok makanan, yg ketika diperlihatkan Kak Reja isinya kebanyakan berupa makanan kaleng, makanan beku dan instant. Oya, disana juga ada juru masaknya, tapi Saya lupa namanya.

Sebenarnya kata Kak Reja orang yg tidak berkepentingan dilarang masuk tapi berhubung Saya temannya dan Saya hanya sendiri maka itu tak masalah (pengalaman yg langka,bukan? Hehe). Sampai di Pelabuhan Tangga Buntung Palembang sudah hampir pukul 7 malam. Turun dari Srikandi Nusantara, Saya meneruskan perjalanan menuju Indralaya tempat kost Saya berada, yg berjarak sekitar 32 Km dari pusat kota Palembang. Perjalanannya tidak begitu ribet karena saat itu Saya hanya membawa backpack berisi beberapa helai baju jadi tidak berat apalagi merepotkan.

Terakhir kali Saya bertemu Kak Reja adalah ketika Saya hampir menyelesaikan studi S1 Saya. Kak Reja mengajak Saya refressing dan kami pun bertemu lagi. Waktu itu kami bertemu sebelum dia bertolak ke Jakarta utk liburan (saat itu kapal Srikandi Nusantara cuti berlayar dan sedang maintenance selama 2 bulan). Di Palembang Indah Mall (PIM) kami bertemu di cafe masa kini, The Expresso. Di tempat inilah Saya pertama kali minum kopi terenak yg Saya minum. Namanya Kopi Luwak. Dari kertas billing yg diterima Kak Reja, Saya sempat lihat harganya sekitar Rp.45.000,-/cangkir. Kopi Luwak itu berasal dari binatang bernama Luwak, entah bagaimana prosesnya tapi kalo ga salah Kopi Luwak itu berasal dari kotorannya binatang Luwak itu. Kalo mo lebih jelas googling aja biar ga salah info..  

Kami berteman baik hingga kini, walaupun sudah lama tidak saling kontak (gara2 Saya sering gonta-ganti nope.hohoo). Markonis Reja adalah salah satu teman pewarna hidup Saya. Beliau seseorang yang baik, bersemangat dan ga neko-neko. Semoga kita berhasil menjadi orang2 sukses, seperti yg kita bicarakan tempo itu. Yahh begitulah sepenggal perjalanan hidup Saya, terhitung kapal ferry yg Saya naiki tidak hanya Srikandi Nusantara, namun juga ada beberapa kapal sejenis lainnya, hanya saja ketika menggunakan kapal lain Saya tidak sendiri tapi ditemani kawan2 sesama pengurus ISBA yg juga kebetulan mau pulang nyebrang membawa motor. Uhmm, Capek sih iya, lama bak Siput kolong juga iya. Namun di sana ada kisah yg exclusive, yg mungkin akan berbeda ceritanya dengan yg duduk manis di sofa empuk kelas VIP sarana transportasi tertentu.

Tak terasa 3 jam berlalu. Bus menurunkan Saya tepat di seberang sebuah rumah. Di hadapan Saya berdiri kokoh sebuah rumah sederhana penuh cinta. Bangunan perumahan Timah berseni jaman penjajahan kolonial Belanda itu merupakan rumah tempat Saya menemukan arti keluarga. Bentuknya tetap asri walaupun mulai ada renovasi di sana-sini dan cat temboknya melusuh. Dan di kota inilah Saya melewati sebagian kecil masa remaja Saya, masa dimana sebelum Saya menjadi seperti sekarang ini. Muntok, Bangka Barat.    

         

            

          

           

Comments

  1. good story yuk,..bisa kali ajak2 naek jetfoil e,.yg gratis pastinya.:D:D #kidding
    q jadi teringet ke palembang waktu masih sd,pertama kali ke palembang naek jetfoil tuh,..hehehe...:D:D

    ReplyDelete
  2. Itu ferry bkn jetfoil.. Jaman SD dah lama bnr tuh,skrg dah bnyk perubahan..

    ReplyDelete

Post a Comment