Hidup Itu Proses...

Siapa yang bertanggung jawab bilang Bogor adem, Hahh?!?
Ketika nama Saya menjadi trading topic (Ceilee..) saat resmi menyandang gelar sebagai penerima beasiswa itu, Sahabat-sahabat dekat langsung kasih ucapan “Congrat” dan ada aja yang berbasa-basi bilang “Pasti di sana bakal tambah putih dan cantik, secara di Bogor kan adem..

Kenyataannya ga seperti yang dibayangkan, begitu tiba di Kota Seribu Angkot ini buktinya Saya masih aja merasa kepanasan, apalagi jika lagi berada on my lodger house, bahasa kerennya Accommodation (Orang Inggris mengistilahkan asrama/kost tidak dengan Dorm, melainkan akomodasi), panasnya bisa full jika tidak menyalakan Fan, So, hampir setiap masuk kamar Saya musti menyalakan kipas angin agar berasa adem (except lagi turun ujan gede), kalo ga gitu pasti seperti lagi berada dalam inkubator penetas telur. @_@

Ngomong-ngomong tentang cuaca, Bogor merupakan Kota yang sulit diprediksi. Jika pagi-pagi cerah terang benderang bisa saja tiba-tiba siangnya turun hujan dan parahnya sering hujan lokal. Maka tak heran jika payung merupakan peranti yang wajib dibawa kemana aja termasuk ke kampus. Kehadiran payung hanya membuat isi tas Saya semakin membludak, padahal sudah ada binder, botol minum, laptop, kotak pensil, tas charger, tas mukena, buku/novel (kalo yg ini emg sering dibawa), juga perlengkapan yg kecil2 lainnya, seperti : Hp, tissue, pembalut, dompet, antiseptik, sikat gigi (hehehe..) Duehh,,ribet ya jadi cewek.hohoho..makanya Saya lebih suka bepergian bawa ransel (terutama ke kampus), karena alasan kapasitas barang yang harus dibawa juga demi kenyamanan. Sekedar bocoran nih, Saya justru ga biasa ato canggung bawa tas kayak cewek kebanyakan (kalo di sini istilahnya “tas sandang”) dan ga heran kadang fashion style Saya nabrak-nabrak, misal pake bawahan rok ato baju terusan tapi pake ransel.hahaha.. :D

Uhmm, balik lagi ke cuaca. Satu hal yang paling saya takuti ketika turun hujan yaitu halilintarnya. Sayangnya Bogor selalu hujan diiringi halilintar, So, Jika turun hujan pasti Saya selalu banyak berdiam diri di kamar saja, sembunyi di balik bantal menutup telinga atau ketika sedang berada di kampus Saya merapatkan diri pada teman-teman yang posisinya dekat dari Saya. Kakak sepupu Saya bilang “Gapapa, ntar juga kamu bakal biasa sama halilintar di sini..”. Yepss, Saya emang agak sedikit parno sama halilintar. Waktu masih SD, Saya seringkali menangis di kelas jika hujan turun plus halilintarnya. Hehehee..

Bicara soal makanan, beberapa kali Saya pernah sakau sama masakan Sumatera (selain masakan Padang yaa..). Ciri khas masakan Sumatera yg berbumbu rempah banyak & pedas,uhmm..membuat Saya merayu2 Kakak Sepupu agar meluangkan waktu dan menemani Saya mencari makanan tersebut yang jualnya hanya ada di Mall-mall besar bukan di Warteg-warteg, dan tentunya muahaall rekk..!!! Jangan banyak tanya, bukan karena Saya ga bisa masak tapi di kost Saya gada kompor buat masak. Lagian tugas Saya di sini ya hanya belajar aja, segala macam pengeluaran sudah dikalkulasi sama Si Pemberi Beasiswa, termasuk biaya makan sehari-hari, So, mau makan apa aja tinggal beli selagi uangnya cukup dan bisa berhemat.

Satu hal yang agak repot, masalahnya sama seperti ketika Saya masih di Palembang dulu, yaitu ketergantungan Saya sama konsumsi pangan laut, misal ikan, cumi, juga udang (kalo udang favorit Saya, dimasak apapun suka). Bogor hampir sama dengan Palembang, tidak ada laut, walaupun Palembang masih banyak sungai ato rawa-rawanya. Jadi, walaupun di sini ada yang jual produk laut seperti ikan, cumi, udang, dkk...itu ga fresh lagi.. Poor me!
Mirisnya, walaupun udah tau kalo ikan, cumi, udang yang dimasak di sini ga seger lagi Saya masih aja suka beli. Yang pasti sehabis makan ikan, cumi, udang di warteg-warteg dekat sini Saya sering ngemil permen, wafer yg manis2, ato kacang (almond yang Saya bawa dari kampung halaman) untuk menetralkan rasa mual akibat ngebayangin yang aneh-aneh.

Sepertinya di Bogor program menaikkan berat barat bakal berhasil. Istirahat cukup. makanan enak-enak dan murah. Pikiran tenang. Uang ngalir..Alhamdulillah.. Yang lebih pasti itu porsi makan Saya 50% lebih banyak dari biasanya, makan berat selalu on time 3 waktu, belum lagi selingannya. Di sini juga Saya jadi lebih rajin minum, bisa saja >2liter/hari. Oya, tentang air minum, ternyata di sini Saya agak pemilih. Ceritanya di kost Kami ada iuran bulanan tuk membeli perlengkapan kost seperti sabun, bayar listrik, dan juga membeli air minum. Awalnya kami sekost masih beli air minum yang merk “Aqua” (belagu amat yaa.hahaa). Nah, giliran uang kas menipis teman-teman sepakat kalo air minum diganti sama yang isi ulang aja, Saya sebagai pendatang baru ya manut aja... Namun ntah karena apa, Saya sering batuk-batuk ga jelas kalo minum air isi ulang itu, mungkin juga karena faktor badan yang kurang fit. Karena lamanya batuk yang Saya derita akhirnya Saya memutuskan periksa ke klinik. Terus kata Dokter, bisa jadi pemicunya karena kecapean, belum cocok sama cuaca, ato dari makanan/minuman yg dikonsumsi.

Tak pikir-pikir akhirnya Saya beli aja itu Electric Kettle capacity 2L, jadi air isi ulang itu Saya rebus terlebih dahulu jika mau minum. Saat dibilang teman2 dikost “kan Kita punya dispenser,mba..” Saya jawab,”Saya mau minum air yg benar-benar mendidih saja”... Sombong sekali ya Saya? Tapi mo gimana lagi. Lagian bener toh batuk Saya berangsur hilang... Hingga saat itu Saya ga minum sembarang air, kecuali air mineral yang berlisensi resmi..

Bagaimanapun Bogor, Saya harus mulai menikmatinya. Hujan, halilintar, macet, panas, dll... Saya bakal 2 tahun di sini dan sungguh tak mungkin merong-rong minta pulang sementara terus melanjutkan studi adalah cita-cita agung Saya sejak dulu, dan sekarang kesempatan itu ada dalam genggaman. Akan seperti apa dan bagaimana Saya di sini adalah bagian dari proses yang harus Saya lewati. Demi kehidupan yang lebih baik!


---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap manusia sama-sama mempunyai 24 jam atau 86.400 detik setiap hari.
Sukses besar yang akan kita raih, sangat tergantung pada kemampuan kita mengelola waktu...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------


   




  

Comments