Dear reader....
Saya mau curhat dikit boleh yaa..hehe
Sebenarnya inipun jadi curhat karena dalam rangka mengerjakan tugas rumah pada materi ke-1 dalam perkuliahan di Institut Ibu Profesional (IIP). Tugas-tugasnnya dominan tentang perenungan diri, menggali potensi diri. Tulisan ini saya publikasikan agar kita semua dapat mengambil pelajaran/hikmah dari pengalaman hidup saya ini. Langsung saja yaa...
Sejak 1989
alhamdulillah saya ditakdirkan Allah terlahir sebagai seorang anak perempuan
dan seiring waktu pun alhamdulillah sekarang sedang menikmati proses menjadi
seorang Ibu berbalita satu. Jika kehidupan ini diibaratkan sebuah universitas
maka salah satu cabang ilmu yang ingin sekali saya tekuni adalah Jurusan Ibu
Amanah.
Amanah di sini bukanlah nama seseorang J
melainkan sebuah sifat yang dapat dipercaya dalam memelihara atau menjaga
sesuatu. Dengan kata lain, Ibu Amanah berarti seorang ibu yang dapat dipercaya
dalam memelihara atau menjaga segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam hal ini, yang mempercayai seorang ibu untuk bisa mengandung kemudian sang
anak tumbuh dengan baik dan bisa memanggil kata “IBU” adalah Allah SWT. Allah
lah yang menitipkan anak-anak untuk dijaga, diarahkan dan dipenuhi hak-haknya.
Tugas menjadi ibu itu
tidak mudah, apalagi menjadi ibu yang amanah. Ibu merupakan perempuan yang
memiliki peranan besar dalam character
building anak-anaknya. Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anaknya
bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Adapun alasan terkuat saya ingin
memperdalami jurusan Ibu Amanah ini adalah karena dilatarbelakangi oleh
pengalaman saya pribadi sebagai seorang anak. Saya dan alm.abang saya adalah
anak yang ketika kecil sering diasuh dan ditinggal dengan baby-sitter karena kedua orangtua bekerja di ranah publik. Disini
saya tidak merendahkan pekerjaan working
mom maupun fulltime mom, karena
tugas keduanya sama-sama tidak mudah.
Critical point yang saya garisbawahi disini adalah menganggap sepele amanah
yang sudah Allah titipkan ke orang tua. Bukan pula untuk menyudutkan keduanya,
karena ketika berbicara masalah dampaknya sungguh sangat besar bagi kepribadian
anak-anaknya kelak di masa mendatang seperti sekarang ketika saya sudah menjadi
seorang Ibu.
Ketika saya menikah dan
menjadi Ibu, saya berkomitmen untuk mengoptimalkan peran saya sebagai seorang
ibu. Saya tidak ingin anak saya merasakan apa yang pernah saya alami sebelumnya.
Namun seringkali inner-child saya muncul ketika membersamai anak, misalnya
cepat emosi saat anak rewel, kadang ringan tangan; mencubit atau menghukum
anak. Saya selalu menyesali jika sudah melakukannya tapi tetap saja saya masIh
sering melakukannya dan saya ingin merubah itu dengan mengingat bahwa anak ini
titipan Allah yang harus saya jaga, rawat, ajari hal-hal baik, dan penuhi hak
anak seperti bermain bersama. Allah percaya sama saya sehingga menitipkan
amanah indah ini. Saya harus berubah segera. Saya harus mempelajari, mendalami
bahkan mempraktekkan bagaimana menjadi Ibu yang Amanah.
Seorang Ibu wajib membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. Seorang
ibu harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena, untuk mencetak
generasi yang berkualitas, diperlukan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu
berarti ibu tak boleh berhenti belajar. Begitu pula saya harus terus
memperbaiki diri. Alhamdulillah saya bersyukur memiliki suami yang bisa
menerima saya dan semua latar belakang saya. Saya juga sangat bersyukur suami
sangat mendukung saya untuk meng-upgrade kualitias diri. Strategi menuntut ilmu
yang saya rencanakan yaitu mempelajari biografi dan trik jitu para teladan yang
berhasil mendidik anaknya (bisa melalui kisah syiroh Nabi dan para sahabat,
maupun tokoh-tokoh muslimin yang terpercaya), mengikuti kelas parenting seperti
IIP ini, seminar workshop, kajian islami, membaca, dll. Saya juga berdiskusi
dengan suami apa yang saya dapatkan dari luar atau sedang dipelajari, lalu
membuat kurikulum/kegiatan bermain dan belajar anak. Semua itu saya lakukan
untuk mencapai tujuan saya menjadi lulusan Ibu Amanah.
Setelah masuk IIP dan mendapat materi pertama terkait Adab Menuntut
Ilmu, saya merasa perlu sekali memperbaiki niat saya dalam menuntut ilmu.
Awalnya saya berniat menuntut ilmu untuk dapat wawasan ilmu, ternyata tidak
hanya sekedar itu. Menuntut ilmu juga harus punya tujuan dipraktekkan dan
dibagikan untuk orang lain. Saya juga memahami dan sangat setuju sebagai
mahasiswi saya harus menghormati dan mempunyai adab terhadap guru, teman kelas,
dan ketika dalam majelis/kelas. Selain niat, sikap yang saya perbaiki setelah mendapat
materi Adab Menuntut Ilmu ini adalah saya menjadi lebih hati-hati dalam mencari
informasi dan menyaring/tabayyun sebelum menyebar informasi tersebut.
Comments
Post a Comment